Rabu, 07 April 2010

tugas media relation

PROFIL PEMBACA HARIAN REPUBLIKA











investigasi kamar mayat RSCM


Penghasilan Penjaga Kamar Mayat yang Seperti Durian Runtuh


Mendung yang tidak merata disertai kilat dan gemuruh petir yang seolah-olah menyambut kedatangan kami di bangunan tua RSCM pada Minggu siang.
Kami langsung menuju ruang jenazah RSCM dan menemui 2 orang penjaga ruang jenazah RSCM yang pada saat itu kebetulan sedang beristirahat. Terlihat Bapak S. Bambang yang langsung kami temui adalah salah satu penjaga ruang jenazah RSCM yang sudah berumur 27 tahun dan berasal dari Yogyakarta yang tinggal di Bekasi. Saat kami tanya alasan mengapa bekerja di RSCM, dia menjawab “ kalau saja ada pekerjaan lain, pengennya sih jadi karyawan. Kalau bukan tuntutan perut saya, sudah pindah dari dulu”. Saat kami bertanya tentang jual-beli organ tubuh jenazah, beliau tidak mengetahui secara jelas bagaimana proses jual-belinya karena ini adalah urusan pihak administrasi ruang jenazah RSCM. Tapi bapak Bambang pernah satu kali memergoki pihak administrasi sedang melakukan transaksi jual-beli organ pada jam 12 malam. Dan pada pukul 2 dini hari, ada salah satu jenazah yang dibawa keluar dengan mobil. Ketika petugas administrasi tersebut ditanya oleh bapak Bambang, petugas administrasi tidak menjawab dan hanya berkata “ini tamu (mayat) mau dibawa keluar”. Kasus jual-beli ini ada kaitannya antara dokter dengan si pembeli secara pribadi. Biasanya yang dijual adalah organ-organ yang kodisinya masih bagus dan masih berfungsi dengan baik seperti jantung, ginjal,dan organ dalam lainnya dan diambil dari jenazah yang identitasnya tidak diketahui.
Lain halnya dengan bapak Junaedi yang berusia 42 tahun dan tinggal di Rawamangun. Beliau bercerita tentang pasien yang sedang membutuhkan darah pada saat itu, dan saat itu juga RSCM sedang kehabisan persediaan darah. Dalam kondisi terdesak, keluarga pasien meminta darah pada penjaga-penjaga ruang jenazah RSCM. Satu kantong darah dihargai tergantung si pihak keluarga pasien berani bayar berapapun, paling mahal Rp 400.000,00. Biasanya dibutuhkan 4-5 kantong untuk operasi satu pasien. Seharusnya, sebulan sekali darah mereka di ambil untuk operasi, tapi bapak Junaedi pernah 2 kali dalam sebulan darahnya diambil dan itu membuat kesehatannya menurun drastis.
Bapak Mi’ing, pria berusia 38 tahun yang sudah 6 tahun bekerja menjadi penjaga ruang jenazah RSCM punya banyak pengalaman yang tidak kalah menarik. Setiap harinya, RSCM bisa kedatangan 5 sampai 6 jenazah. Pernah saja terjadi penumpukan di ruang jenazah RSCM ini karena tidak diketahuinya identitas dan keluarga jenazah, sedangkan hampir setiap harinya ada jenazah yang dibawa ke RSCM. “Disini, yang paling banyak adalah korban tertabrak kereta api. Selain itu, ada korban pembunuhan, mutilasi, korban tenggelam, atau bunuh diri. Kulkas jenazahnya juga kadang-kadang mati. Kalau sudah mati, bau busuknya sampai ke lorong depan”. Saat ini ruang jenazah RSCM sedang direnovasi dan diperluas untuk menghindari penumpukan.
Penghasilan penjaga ruang jenazah RSCM kurang lebih Rp 900.000,00 ditambah uang makan. Selain itu, mereka juga mendapatkan penghasilan dari pihak keluarga jenazah secara pribadi, keluarga jenazah memberikan mereka tip karena sudah merawat jenazah salah satu anggota keluarga tersebut. Dan mereka juga mendapatkan tambahan dari hasil mendonorkan darah.
Jenazah yang dikirim ke RSCM paling banyak adalah korban kecelakaan dan pembunuhan. Dalam sehari, bisa mencapai 5 sampai 6 jenazah yang di masukkan ke RSCM. Biasanya jenazah yang diberi formalin adalah jenazah yang non-muslim untuk dirias terlebih dahulu sebelum dimakamkan. Kalau ada jenazah korban mutilasi maupun tertabrak kereta api yang sudah hancur dan diketahui keluarganya, dijahit oleh petugas yang memang ditugaskan untuk menjahit jenazah. Jika jenazah yang tidak diketahui keluarganya, hanya dimasukkan ke dalam karung dan diletakkan dalam baskom layaknya daging kurban saat Idul Adha.
Jenazah yang baru datang biasanya langsung di identifikasi identitasnya, kemudian pihak RSCM menghubungi polisi untuk mencari pihak keluarga. Setelah itu, jenazah didiamkan dulu di ruang jenazah selama 1x24 jam. Lalu dimasukkan kedalam lemari penyimpanan jenazah jika jenazah tersebut tidak diketahui identitas dan keluarganya. Maksimal mayat berada di RSCM selama 7 hari untuk proses identifikasi. Jika tidak diketahui identitasnya selama 7 hari tersebut, sudah menjadi urusan orang dalam. Baik organnya dijual maupun digunakan oleh dokter untuk praktek. Adapula jenazah yang diotopsi, biayanya antara 5-10 juta. Untuk pengambilan jenazah oleh keluarga, dikenakan biaya perawatan selama di RSCM sekitar Rp 400.000,00. Tetapi mereka tidak memberatkan pihak keluarga jenazah, seperti kasus korban bunuh diri di Masjid Istiqlal bulan lalu yang berasal dari keluarga tidak mampu di Lampung, keluarga dari jenazah itu hanya memberikan Rp 100.000,00 saja dan pihak rumah sakit tidak mempermasalahkannya. Tetapi untuk biaya pengiriman ke daerah asal ditanggung oleh Pemda setempat.
Selain itu, banyak wartawan yang sering mengunjungi ruang jenazah RSCM ini. Para wartawan bahkan sudah bekerja sama dengan RSCM untuk mendapatkan berita terbaru seputar kriminalitas. Mereka akan di hubungi oleh pihak RSCM jika ada kejadian terbaru, dari situ pihak RSCM bisa mendapatkan penghasilan juga.

investigative reporting di taman lawang (feature)



Kecentilan Para Wanita Jadi-Jadian
“ Halo….” Sapa seseorang merdu sambil menghampiri mobil-mobil yang ada dan lewat. Dengan rambut wig terurai panjang, busana yang minim, suara merdu yang dibuat-buat seperti wanita, dan paras yang dipermak secantik mungkin, waria-waria taman lawang itu kembali melakukan pekerjaannya.
Di malam yang sunyi itu tepat sekitar pukul 22.30-05.00 wib jika anda melewati daerah yang didereti rumah-rumah mewah dan perkantoran dengan hamparan taman yang luas anda tak akan menyangka anda akan menemui sampah yang berserakan dibalik keindahan istana-istana disampingnya. Ya, itulah taman lawang, salah satu daerah yang terdapat di bilangan Jakarta Selatan, dimana terdapat waria-waria yang sering melancarkan aksinya dipinggir jalan didepan rumah-rumah mewah. Mereka menggoda para lelaki yang melewati jalan tersebut dari yang muda sampai yang tua. Para waria ini berpakaian seksi selayaknya wanita sungguhan, bahkan sering kali mereka memperlihatkan kelamin yang telah berubah benruknya seperti kelamin wanita normal, sungguh perbuatan tersebut sangat mengenaskan dan menginjak-nginjak martabat wanita

Dengan sambutan yang hangat dari para waria , seketika perasaan takut yang menghantui pikiran dan hati kami yang merasa bahwa para waria taman lawang sensitive dan benci dengan wanita hilang seketika. Ternyata mereka tidak seseram yang kami bayangkan.
Beberapa waria yang sempat kami wawancarai adalan Chika(nama samaran), Dian, dan Sabina. Nama-nama yang indah bukan, jika sekali kita mendengarnya kita pasti akan berpikir bahwa nama ini adalah nama dari seorang wanita yang anggun, cantik, dan rupawan, tapi tidak dengan kenyataannya. Mereka juga mengikatkan dirinya dalam suatu organisasi waria yang bernama HWI (Himpunan Waria Indonesia).
Chika alias Satria yang berasal dari pontianak menjadi seorang waria karena faktor ekonomi, berasal dari keluarga yang kurang mampu dia hijrah ke jakarta untuk mencari penghasilan yang lebih baik tapi susahnya mencari pekerjaan membuat dia memilih menjadi banci alias waria. Selain itu teman-teman seperjuangannya juga banyak yang menjadi waria, sehingga dia ikut hidup dilingkungan waria.
Lain halnya dengan ”dian” waria yang berumur 27 tahun ini adalah seorang sarjana hukum S1 universitas padjajaran di bandung, menjadi salah satu banci di taman lawang untuk memenuhi kebutuhan seksualnya. ”buat saya cari uang itu gampang tapi cari laki-laki tampan dan ganteng susahnya minta ampuun!” cetusnya. Sangat disayangkan orang berpendidikan seperti dia melakukan hal memalukan seperti itu. Tapi itulah kehidupan dia yang pilih.

Lain juga dengan Sabina, jika memang seseorang tidak mengetahui siapa yang biasa berada di taman lawang, maka pasti seseorang itu akan langsung jatuh hati dengan Sabina. Rambut lurusnya yang terurai panjang, kulit putih mulusnya yang hanya dibalut busana minim dan parasnya yang cantik dan sama sekali tidak mirip dengan waria bisa membuat para lelaki bingung apakah ia benar waria ataukah wanita normal. Waria yang bertempat tinggal di daerah kuningan ini biasa mangkal alias melakukan pekerjaannya setiap hari didaerah taman lawang.Ramai atau tidaknya customer, panggilannya untuk pelanggan, tidak tentu. Terkadang pada hari libur pun customer yang datang tidak ramai. Minimal ia bisa mendapatkan 5 customer dalam waktu satu hari. Lain hal dengan waria lain yang belum tentu bisa medapatakan customer sebanyak Sabina. Customer yang biasa dilayaninyapun bermacam-macam. Baik dari anak sekolah ataupun pria yang sudah bekerja mapan dan berumur. Bule atau orang luar pun bisa menjadi pelanggannya.
Tariff yang diperoleh para waria ini tidak tentu. Mereka menentukan tarifnya menurut customer yang didapatnya. Jika memang customer tersebut membawa motor dan berpenampilan biasa, maka tariff yang dicasnya cukup 50rb rupiah saja. Tetapi jika customer tersebut membawa mobil dan berdandanan perlente, maka tariff yang dicasnya bisa mencapai 300rb rupiah. Pendapatan maksimalnya bisa mencapai 500rb perhari. Lain halnya dengan pelanggan yang berasal dari orang asing alias bule, biasanya customer ini membayar lebih banyak dibanding customer lokan, bayaran yang mereka dapat bisa sampai 700rb rupiah, sangat besar bukan. Tak jarang waria-waria tersebut memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dengan mencuri barang berharga dari para pelanggannya setelah melaksanakan tugasnya.
Pekerjaan mereka ini ternyata tidak semudah dan sesimple yang kita bayangkan. Mereka harus berhadapan dengan warga sekitar. Para waria ini harus rela dipukuli warga sekitar karena sering diminta untuk melakukan tugasnya dipinggir jalan. Bukan hanya warga sekitar hambatan mereka dalam melakukan pekerjaannya, tetapi juga razia yang sering diadakan di daerah taman lawang. Razia ini tidak pernah bocor kabarnya, karena para perazia bukanlah polisi biasa, tetapi para pamong praja.
Jika memang ada yang tertangkap, para waria ini bisa ditahan. Proses penahanan bisa berlangsung antara 2 sampai 3 hari. Dalam kurun waktu tersebut akan diurus berbagai macam surat yang bisa mengeluarkan sang waria dari tahanan, seperti surat keterangan dari rt setempat, surat keterangan kelurahan, dan surat-surat keterangan lainnya. Tetapi terkadang mereka juga bisa bernegosiasi dengan para pamong praja dan membayarnya ditempat.
Begitulah kehidupan malam para kaum waria dengan segala tingkah laku kecentilan mereka, semata-mata untuk kesenangan seksual dan cara yang mudah untuk mendapatkan uang tanpa berfikir lama-lama.(Rita, Sally)

Tugas Qualitative DRAMATURGIS

DIARY SHEET

Hari : Jumat,
Tgl : 4 Desember 2009, jam 22.50-23:52 WIB
Tempat : Green Host Studio Bekasi

Pengamatan
“Saya melihat seorang lelaki yang menghampiri teman-temannya yang sudah menunggu diluar studio. Seorang pria tinggi kurus yang mengenakan jaket hitam baju hitam dan celana pendek hitam. Kemudian pria tersebut masuk kedalam studio bersama 3 orang laki-laki lainnya.

Hari : Sabtu,
Tgl : 5 Desember 2009, jam 00:15 WIB
Tempat : Green Host Studio Bekasi

Pengamatan

“Setelah selesai latihan didalam studio mereka berkumpul diluar studio dan laki-laki itu terlihat pergi membeli sesuatu dan ternyata sebotol alcohol dan sebungkus kertas kecil yang berisi ganja

Hari : Minggu,
Tgl : 6 Desember 2009, jam 12:01 WIB
Tempat : Vila Nusa Indah Bekasi

Pengamatan

“Esok harinya terlihat dia sedang membantu ibunya membereskan rumah dan laki-laki tersebut diperingatkan ibunya untuk shalat dzuhur. “Padahal sehari sebelumnya terlihat sedang meminum alcohol dan ngedrugs.



Front Stage

· Kehidupan mahasiswa yang memiliki hobi dalam bermusik dan gaya hidup band aliran punk rock
· Andi (20 tahun)
· Menghilangkan semua beban masalah dengan hobi bermain musik
· Mengikuti gaya rock star internasional yang memakai narkoba
· Pergaulan hidup yang berbahaya dan berlebihan sehingga cenderung ikut-ikutan
· Gaul
· Keren
· Pergaulan Bebas
· Pemakai Ganja
· Peminum

Back Stage

· Ramah

· Berbakat

· Rajin

· Penyayang

· Sayang ibu

· Broken Home

· Pintar

intercultural communication

demonstrasi mahasiswa

Tugas Political Communication

Unjuk Rasa Mahasiswa yang Menolak di Sahkannya UU Pornografi

Sabtu, 01 November 2008 19:12 WIB Denpasar: Ratusan mahasiswa dari berbagai universitas berunjuk rasa menolak disahkannya Undang-undang Pornografi. Mereka menilai UU tersebut akan menimbulkan perpecahan diantara komponen bangsa. Unjuk rasa dilakukan tepat didepan kampus Unadaya hingga ke perampatan jalan dewi sartika Denpasar. Dalam aksinya mereka menilak disahkannya UU pornografi yang dinilai hanya mementingkan kepentingan kelompok tertentu. Dalam orasinya mereka menyebut UU pornografi mengandung keburukan diantaranya tidak mempunyai batasan yang jelas, multi tafsir, bentuk interpensi moral warga negara oleh negara serta berpotensi menimbulkan konflik horisontal, para mahasiswa juga menolak bila pelaku pornografi dihukum lebih berat dibanding koruptor. Mereka juga mendukung kebijakan profinsi bali yang menagajukan judicial review kepada mahkamah konstitusi. Pengunjuk rasa mengajak masyarakat untuk melakukan pembangkangan sipil seperti tidak membayar pajak dan memboykot pejabat pusat yang datang ke bali


Komentar :
Inilah salah satu bentuk dari komunikasi politik di indonesia dimana di indonesia menganut sistem demokrasi. Dan salah satu bentuk dari perwujudan demokrasi yaitu seperti pada video sejumlah mahasiswa melakukan demonstrasi atau unjuk rasa sebagai bentuk komunikasi mereka kepada pemerintah dan atau pejabat tinggi negara untuk menyatakan atau menyampaikan aspirasi mereka dan dalam hal ini komunikasi dilakukan melalui media TV disalah satu TV swasta nasional yaitu Metro TV. Pada video ini juga menggambarkan ketertiban unjuk rasa mahasiswa dalam menyampaikan keinginannya sehingga tidak terjadi bentrok ataupun yang dapat mengganggu kenyamanan masyarakat dan lalu lintas. Tidak seperti sekarang yang sering terjadi dimana mahasiswa melakukan unjukrasa sampai bentrok dengan polisi dan merugikan masyarakat dan sampai menghancurkan fasilitas negara.

CURRICULUM VITAE


CURRICULUM VITAE

PERSONAL DETAILS

Name:Rita Paramesywary Akhmad
Gender:Female
Place of Birth:Maros
Date of Birth:17 juni 1990
Religion:Moslem
Marital Status:Single
Nationality & Citizenship:Indonesian
Contact Address:Jl. Jatiwaringin raya no.237 C
Pondok Gede
Kode Pos 17510
Telp/HP:021 ............
Email:rita.paramesywary@yahoo.com


FORMAL EDUCATION
Year Place Note
2007-now STIKOM LSPR, Jakarta GPA 3,..
2004-2007 SMA Neg.1 Maros, Sul-Sel Very Satisfied Student
2001-2004 SMP ANGKASA LANUD
Hasanuddin, Sul-Sel Very Satisfied Student
1998-2001 SD Neg. 10 Sanggalea, Sul-Sel Very Satisfied Student


SKILL
Languages Speak Read Write
Indonesian Very Good Very Good Very Good
English Good Very Good Very Good
Computer Program

· MS OFFICE [MS WORD, MS EXCEL, MS POWERPOINT]
· INTERNET APPLICATION [INTERNET EXPLORER]
· OTHERS [ADOBE PHOTOSHOP CS2, MOVIE MAKER, ADOBE PREMIERE]


ORGANIZATION and COMMITTEE EXPERIENCES
Organization/Committee Position Year
OSIS SMA BENDAHARA 2005


COURSE/SEMINAR
Name Place Year
MOVIEMOTION Auditorium Prof.Dr.Djayusman LSPR, Jakarta 2009
Guest by Mr.Dino Patti Djalal Auditorium Prof.Dr.Djayusman LSPR, Jakarta 2009
I declare the details stated to be true and complete.
Sincerely yours




Rita Paramesywary Akhmad